Pengakuan Sosial



Tanggal yang cukup keren untuk memulai sesuatu yang baru, bukan? Hehe. 
Well, hal pertama yang mau gue bagi untuk Fira dimasa depan adalah pemikiran gue saat ini yang berkenaan dengan "Pengakuan Sosial".

Rasanya usaha untuk mendapatkan pengakuan sosial bukan sesuatu yang baru, ya. Sedari kecil, bahkan, kita secara sadar ataupun tidak sudah berusaha mendapatkan hal ini sebagai bentuk validasi.

Kalau kita menilik lebih jauh, pengakuan sosial ini sebetulnya adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan kita sebagai manusia. Merujuk kepada teori piramida kebutuhan Abraham Maslow (ahli psikologi humanistik), hal dasar yang dibutuhkan manusia untuk hidup adalah kebutuhan fisiologis (makan, minum, istirahat, dll) dan keamanan. Setelah hal dasar ini terpenuhi, manusia akan terdorong untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya, yaitu social dan esteem needs.

Manusia butuh cinta dan penerimaan dari orang lain. Manusia juga butuh penghargaan. Kebutuhan ini bisa dicapai salah satunya dengan pengakuan sosial.

Pengakuan dari orang lain bisa berdampak positif dan negatif ke diri kita. Gue ambil contoh ke pengalaman pribadi mungkin, ya. Dari SD sampai SMA gue termasuk siswa yang lumayan banget. SMP gue selalu megang peringkat pertama dan ketika SMA gue nyabet juara umum.

Mendapat juara dan peringkat itu suatu validasi sosial. Pengakuan sosial yang bikin gue nagih untuk terus meng-upgrade diri. Gue kecanduan untuk terus menjadi lebih baik. Kepercayaan diri gue benar-benar meningkat dan gak ada yang namanya cemas akan masa depan. Sampai disana, pengakuan dari orang lain masih berdampak positif untuk gue.

Tapi ya, makin dewasa kita dipaksa sadar bahwa dunia gak se-ideal itu. Lulus dari SMA gue dihadapkan dengan berbagai kegagalan. Kegagalan yang bikin kepercayaan diri gue ancur, kegagalan yang bikin masa depan gue jadi bubur. Sadgurl banget emang wkwk.

Ada quote yang sangat menampar gue saat itu dan sampai sekarang masih gue amini.
"Jangan tertipu dengan pujian, ingat bahwa banyak nyamuk mati karena tepuk tangan." -anonim

Salah satu pujian yang sampai sekarang masih nyantol di kepala gue berasal dari abang-abang GO alias mentor gue (ya kalian tau lah panjangan GO apa wkwk). Jadi setelah babak belur di-SNMPTN gue mulai pelan-pelan bangkit untuk SBMPTN. Nah, di GO ini ada beberapa kali try out untuk SBMPTN. Setelah hasil try out-nya keluar, gue konsul sama abang yang mukanya udah gue lupain ini wkwk.

Intinya setelah melihat hasil try out gue selama ini, doi bilang kalau gue sangat berpeluang untuk diterima di kampus manapun, jurusan apapun, bahkan dengan menutup mata. Terbang gak tuh, haha.

Eh, ternyata satu pun ga lolos jiah. Kadang hidup emang se-tega itu.

Kembali ke topik.

Nah, pengakuan sosial yang gue cari mulai kandas, kan. Darisini gue mulai sadar aja, kalau pengakuan sosial gue jadikan sebagai satu-satunya cara untuk meningkatkan self-esteem gue, gue bisa kehilangan diri gue sendiri. Se-negatif itu.

Jadi, ya, gue lagi belajar untuk ga ketergantungan sama hal itu. Buat kalian yang kebetulan mampir dan masih baca sampai part ini, yuk belajar bareng.

Mulai cari hal yang sekiranya akan terus kita perjuangkan, terlepas dari pengakuan. Temukan hal yang bisa bikin kita benar-benar hidup seutuhnya.

Tentu pencarian itu bukan hal mudah. Hal itu juga diakui oleh Abraham Maslow.
It isn't normal to know what we want. It is a rare and difficult psychological achievment. -AM



____________________________________________________________________________________
Terima kasih atas insight-nya, Satu Persen - Indonesian Life School


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ekspektasi

Pesan