Rumah
Maaf ya, Fir, kemarin gue bolos nulis. Ketiduran masa pas lagi belajar daskombang haha. Malem bangun lagi tapi udah gak bisa mikir jadi yaudah. Peace.
Hari ini tulisan gue isinya curhat aja kali ya (padahal dari kemarin juga curhat). Yap, akhir pekan makin dekat. Plan gue weekend ini mau ke tempat mama, abis itu balik ke rumah. Tapi belum balik aja gue udah kepikiran gila.
Asli gue nervous banget nulis ini. Gue takut ada yang baca haha. Yaudah lah ya, tiap orang pasti punya masalah hidup dan insecurity masing-masing. Gue nulis ini sebagai bentuk percaya ke diri sendiri aja. Harapannya abis cerita, bukan cuma lapang hati yang didapat. Tapi juga bisa identifikasi masalah dan nemuin solusinya.
Judul kali ini sesuai dengan benang merah dari segala kekusutan otak gue saat ini. Rumah. Tempat paling ideal bagi sebagian besar orang saat kepikiran pengen lari dari permasalahan. Uang abis, inget rumah. Laper, inget rumah. Buka puasa, inget rumah. Sedangkan gue, selalu ingin melarikan diri dari rumah.
Gue belum pernah nulis hal terkait ini sebelumnya, even di-diary pribadi gue. Gue gak pengen mengingat hal ini. Hal yang bukan cuma bikin gue ngerasa kecewa, sedih, atau kesal. Tapi juga ancur kayak daging dipresto. Untungnya gue melewati titik-titik kritis bersama orang yang saat itu gue percaya. Meskipun gak semua rasa gue tumpahin, tapi keberadaan mereka benar-benar menolong gue.
Tbh, sampai detik ini juga gue belum cerita ke Tuhan. Gue malu terlihat lemah saat dikasih cobaan yang gak seberapa ini. Gue juga malu narik omongan gue. Gue pernah bilang ke Tuhan kalau gue udah benar-benar ikhlasin mama, gue bahagia karena mama udah gak ngerasain sakit lagi. Tapi faktanya gue terguncang banget dengan ketidakhadiran mama, pun sampai sekarang. Iya, nyatanya gue gak sekuat itu.
Oke ini terlalu sensitif. Mari kembali ke topik.
Sebenarnya rumah gue kosong saat ini. Orang rumah juga gak menghubungi gue. Persis seperti yang gue mau. Sendiri tanpa diganggu. Yaa, meskipun ada aja dua sampai tiga kali telepon dalam seminggu dari keluarga besar tentang apapun itu.
Terus juga, keputusan pulang atau enggaknya gue pure ada di-gue. Pikir gue, Ramadhan jauh lebih asik kalau dihabiskan di rumah. Gue bisa lebih optimal ibadah, bisa makan lebih sehat juga. Jadi problemnya dimana ya? Wkwk.
Memang perasaan gak aman, gak nyaman, dan rendah diri itu suka membingungkan. Jangankan untuk nyari jalan keluar, nyari penyebabnya aja keblinger. Ditambah yang punya masalah masih malu dan enggan untuk cerita secara terbuka. Apa-apa yang dirasa, dipendam begitu saja. Katanya jangan terlalu dibawa hati, toh besok juga bisa tertawa lagi. Tapi nyatanya tawa itu hanya bentuk manipulasi diri sendiri. HAHA. Yuk, pelan-pelan yuk, Fir.
Ya, sepertinya gue masih perlu waktu untuk mencerna dan menerima semuanya. Apapun itu, gue yakin gue bisa melewati ini. Gue bisa benar-benar mengikhlaskan hari ini suatu saat nanti. Ketika saat itu tiba, gue akan naik level menjadi pribadi yang lebih dewasa. Menjadi pribadi yang luar biasa. Lalu gue akan berterima kasih dengan diri gue yang saat ini atas segala perjuangannya untuk bertahan. Juga, gue akan sangat bersyukur karena gue bisa menjadi supporter paling loyal untuk diri gue sendiri.
End.
Komentar
Posting Komentar